Assalamu’alaykum
Aye mau cerita nih tentang c Bolang (Bocah Langka). He..He.. Dibaca yee…
Alkisah pada suatu hari di bulan Agustus, Tersebutlah 3 orang anak yang lagi ngobrol. Sebut saja Aray, Dhi-Cay, dan Ipay. Ketiga anak ini merupakan sahabat karib sejak kecil (berlima ama Black n D-Blenk juga)
Di suatu siang yang cerah, mereka sedang asik ngobrol. Tiba-tiba tercetuslah ide dari Ipay,
“Eh, entar sore ke lapangan BM yuk ngeliat layangan”, kata Ipay
“Boleh! Boleh!” jawab Aray n Dhi-Cay
Akhirnya, setelah shalat ’ashar mereka pun berangkat menuju lapangan yang dimaksud. Lapangan yang letaknya tidak terlalu jauh dari kampung tersebut memiliki ukuran yang lumayan besar. Lapangan itu diberi nama Budi Murni atau biasa disingkat BM. Karena pemilik terdahulunya memberikan nama itu sesuai dengan nama cucu-cucunya, yaitu Budi dan Murni yang tak lain adalah kakak dari Dhi-Cay. Lapangan tersebut dikelilingi oleh tembok pagar yang cukup tinggi laksana stadion nasional. Hanya saja tidak ada tribun penontonnya. Jalan untuk mencapai kesana lumayan menegangkan, karena mereka harus melewati kebon yang lebat (hampir mirip hutan). Sebenarnya ada jalan lain yang lebih santai, yaitu lewat jalan raya. Hanya saja jika lewat sana, mereka harus memutar agak jauh!
Singkat cerita, mereka pun akhirnya sampai di lapangan. Tanpa buang-buang waktu, merekapun segera menuju lapangan tengah guna melihat layang-layang yang berhamburan di angkasa. Ketiga sahabat itupun terbuai kala menyaksikan peristiwa yang bagi mereka adalah sesuatu yang menakjubkan. Memandangi langit yang dihiasi layang-layang berwarna-warni dari berbagai arah. Tak ketinggalan juga suara anak-anak kecil yang riang mengejar layang-layang yang putus karena “diadu”. Sehingga memperamai suasana.
Disingkat lagi ceritanya, tak terasa waktu sudah hampir sore. Tetapi keadaan di lapangan tidak jauh berubah. Bahkan semakin sore, semakin banyak orang yang berdatangan. Entah ingin maen layanagan, atau sekedar hanya ingin menonton seperti mereka. Mengingat waktu yang semakin sore, ketiga sahabat itu pun harus segera pulang. Terutama Aray. Karena dia harus mengepel rumah sebelum adzan maghrib berkumandang. Juga Dhi-Cay yang merupakan mu’adzin di kampung.
“Cay! Pulang nyok! Dah sore nih”, teriak Aray
“Hayuk!” Dhi-Cay menimpali
“Panggilin Ipay tuh!” kata Aray
Dhi-Cay pun akhirnya memanggil-manggil Ipay dari jarak yang agak jauh.
“Ipay… Ipay…”, teriak Dhi-cay
Tetapi dia tidak mendengar. Ipay kelihatan masih asyik memandangi langit melihat layang-layang. Sampai akhirnya kami berdua berteriak-teriak memanggilnya, tapi tidak mendapat respon juga. Kami kira, mungkin sebentar lagi Ipay juga sadar bahwa hari telah sore. Akhirnya kami pun sepakat untuk jalan terlebih dahulu.
Jalan yang kami lewati untuk pulang sama dengan jalan ketika kami datang. Setelah menyebrang jalan di depan pagar lapangan yang hanya cukup untuk dilewati satu mobil saja, ada sebuah jalan setapak yang dikelilingi alang-alang yang tidak terlalu rimbun. Jalan itu agak menurun. Sampai akhirnya tidak begitu lama kemudian di ujung jalan itu ada sebuah lapangan kecil. Jauh lebih kecil dari lapangan BM tadi.
“Ray, berenti dulu! Gw mau . . . . bentar.”, pinta Dhi-Cay
Kami pun berhenti sejenak. Sambil menunggu Dhi-Cay yang sedang . . . . Aray melanjutkan teriakannya memanggil-manggil Ipay dari bawah. Tetapi tetap saja tidak berhasil. Kepala Ipay masih mendongak ke atas melihat layang-layang. Seakan-akan matanya sudah tertancap dengan langit.
Tak lama kemudian, di jalan atas ada seekor anjing putih berbulu agak ikal yang sedang mengintip Aray dan Dhi-Cay. Anjing itu diam beberapa saat lamanya sambil memperhatikan mereka berdua.
“Cay, ada anjing noh ngeliatin kita dari tadi”, kata Aray
“Mana?”, tanya Dhi-Cay
“Itu tuh!”, kata Aray sambil menunjuk ke arah anjing tersebut. “Lo cepetan . . . . nya! Entar kita dikejar aja”, pinta Aray
“Ah, lo tenang aja Ray! Kagak bakal ngejar dia mah. Kan ada gue!”, kata Dhi-Cay dengan nada meyakinkan
Kemudian tak beberapa lama anjing itupun pergi.
“Tuh kan Ray! Bener kan apa kata gue!” ucap Dhi-Cay
Aray pun bisa bernafas lega setelah kepergian anjing itu. Tetapi hal itu hanya beberapa saat saja. Ternyata anjing yang tadi pergi kini kembali lagi. Bukan hanya itu. Dia pun membawa serta temannya. Seekor anjing tipe srigala berwarna hitam dengan taring yang terlihat sangat meyakinkan dapat merobek kulit mangsanya dengan mudah. Kedua anjing itu pun sejenak terdiam menatapi Aray dan Dhi-Cay.
“Lha Cay! Die bawa temen noh!” warning Aray
Selang beberapa detik kemudian, kedua anjing tadi langsung berlari ke arah mereka dengan kencang. Dhi-Cay yang sedari tadi belum selesai . . . . kontan langsung panik melihat hal itu.
“Cay! Dia ngejar Cay! Kabuuuurrr…” teriak Aray
Tanpa pikir panjang, Dhi-Cay pun segera menyelesaikan . . . . dan ikut ngacir bersama Aray. Mereka berdua lari ke arah kebon. Dhi-Cay bersembunyi di balik tanaman hias yang ada di depan rumah di kebon itu. Sedang Aray terus ngibrit ke dalam kebon tanpa melihat ke belakang.
Setelah beberapa saat, Aray berhenti berlari karena merasa ada yang hilang.
“Lha! Mana Dhi-Cay ya? Apa jangan-jangan kena digigit?” pikir Aray
Kemudian dia pergi mengecek ke arah rumah tempat Dhi-Cay bersembunyi (yang tak lain adalah rumah D-Blenk) dengan jantung berdebar-debar dan nafas ngos-ngosan. Mereka pun akhirnya bertemu kembali.
“Cay, lo lari kemana tadi?” tanya Aray
“Gue tadi ngumpet di taneman” kata Dhi-Cay
“Terus, anjingnya mana?” tanya Aray
“Tadi diusir ama bang Parjo (pemilik rumah). Haduuhh… Untung aja Ray. Kalo gak diusir dah digigit kali gue” kata Dhi-Cay
Setelah melewati peristiwa itu, mereka pun segera pulang ke rumah masing-masing untuk bersiap menyambut maghrib.
Tidak beberapa lama setelah mereka sampai di rumah, tiba-tiba Ipay datang dari arah jalan raya. Menemui kedua temannya itu, serta merta Ipay pun langsung ngomel-ngomel kepada mereka.
“Ah tega lo bedua! Masa gue ditinggalin” kata Ipay
“Lha lagian lo juga sih. Gue panggilin malah kagak nyaut. Ya udeh gue tinggal aje” sambut Aray
“Oia Pay! Kok lo pulang malah lewat jalanan si?” tanya Dhi-Cay
“Nah itu die gw mau ngomong. Tadi pas gue mau pulang lewat kebon, tau-tau ada anjing 2 lari dari arah kebon. Gue takut dikejar. Ya udah gue pulang aja lewat jalanan. Muter muter dah” cerita Ipay
Mendengar itu, spontan Aray dan Dhi-Cay langsung tertawa. Melihat itu, Ipay pun bingung.
“Kenapa lo pada?” tanya Ipay
Akhirnya Aray pun menjelaskan bahwa anjing yang menghampiri Ipay tadi sebelumnya mengejar mereka berdua sampai kebon yang kemudian diusir oleh bang Parjo. Mungkin setelah diusir, anjing-anjing tadi kembali melewati jalan yang sama. Sehingga bertemu dengan Ipay yang kebetulan sedang melintas melewati jalan tersebut.
Kejadian hari itu ditutup dengan tawa mereka bertiga. Setelah itu, mereka pun segera bersiap untuk menunaikan ibadah shalat maghrib di musholla tercinta.
Ini salah satu kisah Bolang (Bocah Langka) yang benar-benar terjadi pada masanya. Nantikan petualangan bolang yang lucu dan mendebarkan selanjutnya.
Wassalamu’alaykum